Langsung ke konten utama

Mengenal Bangsa - Bangsa Domba dan Karakteristiknya

Nama Kelompok :
1. Alfin Muallifa
2. Septi Maya Riyanto
3. Muh Saratun Sara Husein
4. Nasrullah

1. Domba Garut ( Domba Priangan )
Domba priangan atau domba garut ini berkembang di priangan (Jawa Barat ), terutama di daerah Bandung, Ciamis, Garut, Sumedang, dan Tasikmalaya. Namun saat ini sudah berkembang di seluruh pulau jawa khususnya di Indonesia. Domba ini dipelihara selain sebagai domba potong atau domba pedaging, juga di pelihara domba aduan. Berikut adalah karakteristik Domba Garut :
  • Bertubuh besar dan lebar, lehernya kuat dahi konveks.
  • Berat domba jantan mencapai 60-80 kg dan Domba betina sekitar 30-40 kg.
  • Bulunya cukup banyak.
  • Domba garut betina tidak bertanduk, sedangkan domba jantan mempunyai tanduk besar, kokoh, kuat dan melingkar.


2. Domba Batur Banjarnegara (Domas)
Pada awalnya domba batur Banjarnegara berkembang di daerah Banjarnegara dan menjadi Ikon Banjarnegara, dan sejak tahun 2009 mulai berkembang di beberapa daerah Jawa dan Sumatera. Berikut adalah karakteristik domba batur :
  • Tubuhnya besar dan panjang
  • Kaki cenderung pendek dan kuat
  • Domba jantan maupun betinanya tidak memiliki tanduk.
  • Memiliki Kulit relatif lebih tipis, namun bulunya tebal.
  • Warna bulu dominan putih dan menutupi seluruh tubuhnya hingga bagian muka domba.
  • Berat Untuk domba jantan dewasa berkisar antara 90-140 kg dan domba betina 60-80 kg.
3. Domba Ekor Tipis
Domba ekor tipis dikenal sebagai domba asli Indonesia dan sering disebut Domba Gembel, dalam Bahasa Inggris disebut Javanesse Thin-Tailed sheep. Karakteristik domba ekor tipis sebagai berikut :
  • Berat badan domba jantan 30-40 kg dan domba betina 15-20 kg.
  • Ekornya tidak menunjukkan adanya desposisi lemak.
  • Domba jantan memiliki tanduk melingkar, sedangkan yang betina umumnya tidak bertanduk.
  • Telinga umumnya medium sampai kecil dan sebagian berposisi menggantung.
  • Bulu wolnya gembel berwarna putih dominan dengan warna hitam di sekeliling mata, hidung, dan beberapa bagian tubuh lain.
4. Domba Ekor Gemuk
Domba Ekor Gemuk dikenal juga dengan nama Domba Kibas (di Jawa), juga dikenal sebagai domba Donggala, yang sekarang sudah dipatenkan menjadi domba ekor gemuk lokal Palu dari Sulawesi Tengah.Pada awalnya domba Ekor Gemuk berkembang di Jawa Timur, Madura, Sulawesi, dan Nusa Tenggara (terutama di Lombok). Namun saat ini sudah berkembang di seluruh Indonesia. Berikut adalah Karakteristik domba ekor gemuk :
  • Berat domba jantan mencapai 40-60 kg, sedangkan domba betina 25-50 kg.
  • Tinggi badan pada jantan dewasa antara 52 – 65 cm, sedangkan pada betina dewasa 47 – 60 cm.
  • Warna bulu wolnya putih dan kasar.
  • Domba jantan tidak bertanduk dan hanya sedikit yang mempunyai tanduk kecil, sedangkan yang betina tidak bertanduk.
  • Ekor yang besar, lebar dan panjang. Bagian pangkal ekor membesar merupakan timbunan lemak, sedangkan bagian ujung ekor kecil karena tidak terjadi penimbunan lemak. Cadangan lemak di bagian ekor berfungsi sebagai sumber energi pada musim paceklik.
  • Dada terlihat serasi dan kuat seperti bentuk perahu, ke empat kakinya kalau jalan agak lamban karena menanggung berat badan dan ekornya yang gemuk.
  • Keunggulan Domba Domba ekor gemuk ini adalah tahan terhadap panas dan kering.
Perbedaan Domba Dengan Kambing
  1. Domba hidupnya berkelompok dengan domba lainnya, Sedangkan kambing tidak berkelompok atau individual ( Soliter )
  2. Kambing biasanya memakan daun-daun segar, pucuk daun, dan memakannya dengan agak berdiri atau memanjat pepohonan ( Graz ), Sedangkan domba makan dengan cara merumput, mencari rumput yang pendek di permukaan tanah ( Brow ).
  3. Domba memiliki bulu yang banyak, Sedangkan Kambing lebih banyak memiliki rambut.
  4. Kambing memiliki tanduk yang mengarah ke atas atau ke samping sedangkan tanduk domba melengkung, itu juga tidak semua domba memiliki tanduk.
Dokumentasi


Foto dengan domba ekor tipis






Foto dengan kambing Jawarandu









Foto dengan Sapi Limosin







Foto dengan Sapi PO ( Peranakan Ongole )

Foto dengan Sapi Limosin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Budidaya Itik Pedaging

Itik sebagai sumber daging sebagai berikut = Itik Pedaging, Itik Jantan, dan Itik betina afkir Jenis - jenis itik pedaging = Peking, Manila, Tiktok/Serati ( Persilangan Itik dan entok) Jenis - jenis itik petelur = Cirebon, Mojosari, Alabio, Tegal, Bali, dan Magelang. A. Sistem Pemelirahan Itik      Pada sistem ini bisa di bagi menjadi 4 macam sistem pemeliharaan sebagai berikut : 1. Sistem Tradisional (Sistem Gembala/Angon) Sistem pemeliharaan tradisional ini biasanya di terapkan di Jawa , Bali, Sulsel, Sumatera. a. Keuntungan:     - Kandang murah     - Biaya pakan relatif rendah     - Kebutuhan tenaga kerja sedikit b. Kekurangan:     - Kelalaian mutu pakan, kualitas daging (lebih amis dan alot).     - Ketersediaan pakan tergantung musim     - Peternak harus selalu mengawasi ternaknya     - Harus selalu berpindah tempat 2. Sistem Semi-Intensif     Sistem ini ada dua cara yai...

Kolokium Seminar proposal/Tugas akhir

Manajemen Pakan Sapi Potong Ongole (PO) di PT. Fortuna Megah Perkasa Sapi potong merupakan salah satu ternak penghasil daging di Indonesia, akan tetapi produksi daging yang belum mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri, hal ini disebabkan populasi dan tingkat produktivias ternah masih rendah. Oleh karena itu upaya peningkatan populasi dan produktivitas sapi potong senantiasa di lakukan. Salah sarinya adalah penggalakan usaha penggemukan sapi dengan manajemen pakan yang baik. Di PT. Fortuna Megah Perkasa merupakan salah satu pengusahaan konstribusi 0.029% dari total produksi nasional pada tahin 2015. METODE 1. Studi literatur 2. Observasi 3. Koleksi data 4. Wawancara 5. Dokumentasi Variabel yang akan di amati dalam manajemen pakan : 1. Ketersediaan bahan baku 2. Kapasitas produksi pakan 3. Formulasi ransum 4. Teknologi pembuatan pakan 5. Produksi pakan 6. Produksi daging

Peternakan Ayam Petelur di desa Tanggir

Bisnis peternakan ayam petelur yang di lakukan oleh  sati warga yang berada di desa tanggir,  kecamatan singgahan,  kabupaten tuban, memiliki omzet yang menjanjikan Kandang ayam petelur di desa tanggir Kandang ayam petelur milik bapak kamit mampu menampung hingga 2.000 ekor ayam petelur. Dari jumlah sekian banyaknya setiap harinya ayam petelur menghasilkan telur hingga 100 kg untuk dipasarkan Bapak kamit mengaku bahwa harga telur normal 18.000 - 18.500 keuntungan bisa mencapai Rp 50 juta lebih per bulan. Namun apabila harga telur menurun keuntungannya juga menurun. Hal hal yang harus diperhatikan dalam budidaya ayam petelur milik bapak kamit sebagai berikut : 1. Persiapan lokasi      Lokasi  usaha peternakan ayam petelur di desa tanggir sangat strategis karena letak kandang jauh dari permukiman warga yang berada di tengah sawah maka bau kotoran ayam tidak terlalu timbul, lokasi kandang juga jauh dari keramaian warga akan mengurangi resiko ...